RSS

Kuserahkan Diriku Kepada-Mu Ya Allah

04 Mar


Kuserahkan Diriku Kepada-Mu Ya Allah

penulis Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
Syariah Aqidah 19 – November – 2003 20:17:50

Manusia adl makhluk yg serba lemah. Sungguh sangat tdk pantas bila ada orang yg menyombongkan diri tdk butuh dgn pertolongan Allah. Berserah diri kepada Allah baik dlm keadaan lapang maupun sempit merupakan jalan menuju keselamatan.

Menyerahkan diri dan semua urusan hanya kepada Allah kita kenal dgn istilah tawakkal. Jadi tawakkal adl menyerahkan diri dan semua urusan hanya kepada Allah dlm mengambil segala macam manfaat dan menolak segala macam mudharat. Tawakkal adl salah satu jenis ibadah yg diperintahkan oleh Allah  dan merupakan ibadah hati yg kebanyakan orang terjatuh dlm kesalahan yaitu syirik kepada Allah dari sisi ini. Ibnul Qayyim t dlm kitab Madarijus Salikin menyatakan bahwa Al-Imam Ahmad t berkata: “Tawakkal adl amalan hati. Allah berfirman:

“Kepada Allah-lah kalian bertawakkal jika kalian benar-benar orang yg beriman.”

Mengapa Harus Tawakkal

Bila kita memegang konsep Qadariyyah mk kita akan mengatakan: “Untuk apa kita tawakkal padahal kita memiliki kemampuan.” Tentu konsep seperti ini adl konsep yg batil. Atau seperti yg diucapkan oleh Qarun dgn keangkuhannya:

“Qarun berkata: ‘Sesungguh aku hanya diberi harta itu krn ilmu yg ada padaku’.”

Sehingga ia tdk butuh kepada tawakkal. Tentu yg benar tdk seperti itu.
Tawakkal di samping sebagai perintah Allah juga merupakan perkara yg sangat dibutuhkan oleh tiap orang. Bagaimana itu? Marilah kita berlaku jujur terhadap diri kita yaitu bahwa kita diciptakan oleh Allah dalam keadaan lemah di atas kelemahan. Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t dlm tafsir mengatakan: “Lemah tubuh lemah keinginan lemah kesungguh-sungguhan lemah iman dan lemah kesabarannya. Oleh krn itu pantaslah Allah  meringankan yaitu perkara yg dia tdk sanggup utk memikul dan tdk sanggup utk dipikul oleh keimanan kesabaran dan kekuatannya.”
Apakah kita bisa berbuat dgn kelemahan itu tanpa bantuan dari Allah ? Jawab tentu saja tidak. Oleh krn itu bila berbuat sebagai sarana utk mendapatkan yg diinginkan tdk akan bisa dilakukan melainkan dgn bantuan Allah bagaimana lagi bisa memetik hasil sebagai tujuan dari usaha tersebut tanpa bantuan dari Allah . Allah berfirman:

“Dan Allah hendak menerima taubat kalian sedangkan orang2 yg mengikuti hawa nafsu bermaksud supaya kalian berpaling sejauh-jauh . Allah hendak memberikan keringanan kepada kalian dan manusia diciptakan bersifat lemah.”

“Allah Dialah yg menciptakan kalian dari keadaan lemah kemudian menjadikan kalian sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat kemudian dia menjadikan kalian sesudah kuat itu lemah dan beruban. Dia menciptakan apa yg dikehendaki dan Dialah Yang Maha Mengetahui dan Mahakuasa.”
Ayat di atas sangat jelas sebagai bantahan terhadap konsep Qadariyyah yg memiliki kesombongan terhadap kekuatan yg ada pada diri dan ingin melepaskan diri dari Allah . Oleh krn itu utk apa engkau menyerahkan diri dan urusanmu kepada kemampuan diri sendiri padahal dirimu lemah tdk berdaya? Qarun dgn kemampuan menumpuk harta yg diberikan Allah dan menyandarkan semua wujud keberhasilan kepada ilmu pada akhir harus menelan kepahitan hidup yg di saat itu ia tdk bisa menyelamatkan diri sendiri dan tdk bisa menelurkan ide agar bisa kembali berbahagia dgn harta dan pendukungnya. Bukankah pengetahuan kita terbatas? Allah menjelaskan:
“Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit.”
“Sesungguh Kami telah mengemukakan amanah kepada langit bumi dan gunung-gunung mk semua enggan utk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianati dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguh manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.”
Semua ini menggambarkan kepada kita tentang sangat butuh kita kepada Allah  dan tdk akan mungkin meski sekejap mata utk terlepas dari Allah . Terlebih lagi kita berasal dari sifat kelemahan dan tdk mengetahui apa-apa.

Kedudukan Tawakkal dlm Agama

Tawakkal memiliki kedudukan yg sangat tinggi di dlm agama bagaikan kepala terhadap jasad. Bahkan tawakkal merupakan cerminan iman dan syarat keimanan seseorang. Allah berfirman:

“Kepada Allahlah kalian bertawakkal jika kalian benar-benar orang yg beriman.”
Allah juga berfirman:
“Musa berkata: ‘Wahai kaumku jika kalian beriman kepada Allah hendaklah kalian bertawakkal kepada-Nya jika kalian orang2 yg tunduk’.”

Rasulullah  bersabda:
“Suatu kaum masuk ke dlm al-jannah di mana hati-hati mereka bagaikan hati-hati burung.”
Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Sebagian ulama memberikan makna hati mereka bagaikan hati burung’ adl orang2 yg bertawakkal.”
Ibnul Qayyim t mengatakan bahwa Allah menjadikan tawakkal sebagai syarat dari iman menunjukkan bahwa tdk ada iman ketika tdk ada tawakkal. Dan dlm ayat yg lain Allah berfirman: “Musa berkata: ‘Wahai kaumku jika kalian beriman kepada Allah hendaklah kalian bertawakkal kepada-Nya jika kalian orang2 yg tunduk’.”
Allah  menjadikan keshahihan Islam adl dgn tawakkal. Dan tatkala tawakkal seorang hamba kuat iman akan menjadi lbh kuat dan apabila tawakkal lemah mk ini bukti bahwa iman lemah dan mesti terjadi. Allah telah menghimpun antara tawakkal dan ibadah tawakkal dan iman tawakkal dan takwa tawakkal dan Islam dan antara tawakkal dan hidayah.
Allah berfirman dlm Al Qur’an yg menjelaskan pertolongan-Nya pembelaan-Nya dan kecukupan yg akan diberikan-Nya kepada orang yg bertawakkal:

“Dan barangsiapa yg bertawakkal kepada Allah mk Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.”

Tawakkal Diiringi dgn Usaha

Tawakkal yg tdk diiringi dgn usaha termasuk kekurangan dan kejelekan agama seseorang sebagaimana kita ketahui bahwa tawakkal tdk bisa lepas dari iman dan Islam seperti penjelasan di atas. Nu’man Al-Watr menukilkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumullah: “Ibnu Taimiyyah t mengatakan: ‘Meninggalkan sebab-sebab termasuk corengan terhadap syariat-Nya dan menyandarkan diri kepada sebab-sebab itu termasuk kesyirikan kepada Allah.’ Ibnul Qayyim t mengatakan: ‘Termasuk sebesar-besar kejahatan dlm agama adl meninggalkan sebab dan menyangka bahwa yg demikian itu termasuk meniadakan tawakkal’.”
Ibnul Qayyim t mengatakan: “Barangsiapa yg meninggalkan sebab/usaha mk tawakkal belum lurus. Akan tetapi termasuk dari kesempurnaan tawakkal adl tdk condong kepada sebab-sebab itu memutuskan keterkaitan hati dari sebab-sebab itu.” Kemudian setelah itu beliau mengatakan: “Dan tdk akan tegak dan bernilai dlm menjalani usaha itu melainkan harus di atas tawakkal.”
Dalil yg menunjukkan bahwa tawakkal itu harus dibarengi dgn usaha adl apa yg diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari shahabat ‘Umar Ibnul Khathtab z:

“Bila kalian bertawakkal kepada Allah dgn sebenar-benar tawakkal niscaya Allah akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana dia memberikan rizki kepada burung; pergi di pagi hari dlm keadaan perut kosong dan pulang dlm keadaan kenyang.”

Tawakkal dan Macam-macamnya

Tawakkal sebagai satu bentuk ibadah tentu memiliki celah bagi seseorang utk bermaksiat di dlm sebagaimana ibadah-ibadah yg lain. Oleh krn itu para ulama membagi tawakkal menjadi beberapa bagian:
Pertama tawakkal ibadah.
Yaitu tawakkal yg membuahkan ketundukan dan pengagungan serta kecintaan dlm mencari segala manfaat dan menolak segala bentuk mudharat. Tawakkal ini hanya diberikan kepada Allah semata.
Kedua tawakkal syirik.
Yaitu tawakkal ibadah yg diberikan kepada selain Allah dan ini termasuk syirik besar. Barangsiapa memberikan kepada selain Allah mk dia telah keluar dari Islam telah musyrik dan kafir.
Apabila seseorang menyandarkan diri dgn bertawakkal dlm hati kepada selain Allah dlm masalah rizki dan kehidupan mk ini termasuk syirik kecil. Jenis tawakkal seperti ini diistilahkan oleh sebagian ulama dgn syirik khafi .
Ketiga tawakkal yg diperbolehkan.
Yaitu menyerahkan satu bentuk urusan kepada orang lain dan orang tersebut mampu utk melakukan mk hal ini diperbolehkan1. Seperti apa yg telah dilakukan oleh Rasulullah  ketika menyerahkan tugas utk menyembelih apa yg masih tersisa dari hewan qurban beliau kepada ‘Ali bin Abi Thalib z sebagaimana dlm riwayat Al-Imam Muslim dari shahabat Jabir bin ‘Abdullah z. Juga sebagaimana beliau menyerahkan tugas penjagaan harta zakat fithri kepada Abu Hurairah z yg diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan juga sebagaimana beliau telah mewakilkan kepada ‘Urwah bin Al-Ja’d z utk membeli binatang qurban.
Walhasil tawakkal adl salah satu jenis ibadah yg terkait dgn hati yg memiliki kedudukan yg tinggi di dlm agama. Tawakkal tdk akan sempurna melainkan harus disertai dgn ikhtiar dgn menjalankan sebab-sebabnya. Tawakkal mempunyai hubungan yg sangat erat dgn iman Islam ibadah hidayah dan takwa. Wallahu a’lam. 

Sumber Bacaan:
1 Al Qur’an
2 Riyadhush Shalihin
3 Tafsir As-Sa’di
4 Al-Qaulul Mufid Syarah Kitabit Tauhid
5 Fathul Majid
6 Madarijus Salikin

Sumber: http://www.asysyariah.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 4, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: